Minggu, 16 Desember 2012

BiologikuBiologimu



MUTUALISME BANGSA SEMUT DAN POHON AKASIA

Pada film yang saya lihat dengan judul “The private life of plants, saya dapat melihat berbagai mahkluk hidup saling bersimbiosis dalam mempertahankan diri atau melangsungkan kehidupan mereka, salah satunya yang dapat bersimbiosis dengan mahkluk hidup lain adalah bangsa semut dengan pohon akasia. Disini telah terjadi simbiosis yang saling menguntungkan diantara bangsa semut (pseudomyrmex) dan pohon akasia sejak lama. Semut-semut yang sedang berada di salah satu batang dan ranting pohon akasia, semut-semut tersebut mendapatkan makanan dari bagian pohon akasia yang berbentuk puting yang mengandung nektar atau madu tanaman serta protein dan semut-semut menggunakan rongga-rongga di ranting-ranting pohon akasia sebagai sarang mereka.  Sebagai balas budi atas kebaikan pohon akasia, semut-semut tersebut berusaha menghalau semua parasit-parasit seperti kumbang, burung yang akan mengganggu kelangsungan hidup pohon akasia.

Semut dan pohon akasia memiliki hubungan timbal balik saling menguntungkan alias simbiosis mutualisme. Uniknya, tinggi rendahnya kualitas hubungan dipengaruhi besar tidaknya ketergantungan kedua makhluk hidup tersebut.
Selama ribuan tahun, pohon akasia telah menyediakan sumber makanan seperti madu dan protein dan perlindungan bagi koloni semut agresif penggigit. Sebaliknya, semut-semut tersebut juga melindungi pohon akasia dari serangan satwa-satwa yang menyukai daun-daun akasia, contohnya jerapah dan gajah.
Apa yang terjadi jika populasi mamalia yang memangsa daun-daunan akasia berkurang? Jawaban yang dapat diambil dari para peneliti di Kenya adalah membagi vegetasi akasia menjadi dua bagian, salah satu dibiarkan dan lainnya dihindarkan dari pemangsanya.
Dalam beberapa tahun, pohon akasia yang tidak terancam pemangsa justru pertumbuhannya terganggu dan menghasilkan nektar lebih sedikit. Karena nektar yang dihasilkan sedikit, semut yang datang pun berkurang. Namun, fatal akibatnya bagi akasia sebab semut yang biasanya hanya mengisap nektar menjadi beringas hingga merusak dahan dan daun akasia. Kalaupun tidak, serangga lain yang suka merusak batang pohon, misalnya kumbang kayu, dengan leluasa datang.

Meskipun mutualisme di antara semut dan pohon telah berlangsung lama, tiba-tiba hilang sebegitu cepat. Namun, karena tergantung pada pohon akasia, semut-semut tersebut akan kelaparan jika nektar berkurang sehingga jumlah populasinya menurun. Sebagian anggota akhirnya terpaksa kembali berbaikan dengan semut dan dengan populasi terbatas memilih bersabar menuai nektar dari bunga akasia.  Selain itu, apa yang terjadi jika pohon yang tadinya ditinggalkan kembali dipindahkan ke alam liar? Ujar Todd Palmer, asisten profesor ilmu hewan di Universitas Florida, AS. Temuan risetnya itu dilaporkan dalam jurnal Science. Selanjutnya akan mengukur seberapa cepat pohon akasia akan membangun simbiosis yang saling menguntungkan kembali dengan semut dan apakah pemulihan ini memungkinkan atau gagal. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar