Rabu, 28 November 2012

BiologikuBiologimu




SPECIES ENDEMIK DARI PAPUA

Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki kekayaan keanekaragaman hayati terbesar di dunia. Indonesia dengan luas wilayah 1,3% dari seluruh luas muka bumi memiliki 10% flora berbunga dunia, 12% mamalia dunia, 17% jenis burung dunia, dan 25% jenis ikan dunia.

 Memperhatikan sifat hewan di Indonesia Wallace membagi kawasan penyebaran fauna menjadi 2 kelompok besar yaitu fauna bagian barat Indonesi (Sumatera, Jawa, Bali, Madura, Kalimantan) dan Fauna bagian timur yaitu Sulawesi dan pulau di sebelah timumya. Dua kelompok fauna ini mempunyai ciri yang berbeda dan dipisahkan oleh garis Wallace (garis antara Kalimantan dan Sulawesi, berlanjut antara Bali dan Lombok).

Indonesia memiliki keanekaragaman jenis yang kaya. Taksiran jumlah jenis kelompok utama makhluk hidup sebagai berikut: Hewan menyusui 300 jenis; Burung 7500 jenis; Reptil 2000 jenis; Amfibi 1000 jenis; Ikan 8500 jenis; keong 20000 jenis; serangga 250000 jenis. Tumbuhan biji 25000 jenis; paku pakuan 1250 jenis; lumut 7500 jenis; Ganggang 7800 jenisjamur 72 000 jenis; bakteri dan ganggang biru 300 jenis. Beberapa pulau di Indonesia memiliki spesies endemik, terutama di pulau Sulawesi; Irian Jaya dan di pulau Mentawai. Indonesia memiliki 420 species burung endemik yang tersebar di 24 lokasi.


Contoh spesies endemik yang ada di Indonesia yaitu  Burung Cenderawasih atau yang disebut orang asing dengan nama Bird of Paradise, merupakan burung khas Papua. Bulunya indah, terutama terdapat pada cendrawasih jantan. Umumnya bulu sangat cerah dengan. burung ini dianggap sebagai burung cantik tetapi tidak berkaki. Mereka tidak akan turun ke tanah tetapi hanya berada di udara saja lantaran bulu-bulunya yang indah. Karena itu kemudian burung Cenderawasih terkenal sebagai Bird of Paradise atau Burung Surga (Kayangan).

Daerah sebaran cendrawasih terdapat di hutan-hutan pegunungan Papua Nugini bagian timur dan tenggara, umumnya dari ketinggian 1.400 meter sampai ketinggian 1.800 meter di atas permukaan laut. Dari 43 spesies burung cantik ini, 35 di antaranya bisa ditemukan di Papua. Sisanya, sudah sulit ditemukan.
Sebanyak 30 jenis cendrawasih terdapat di Indonesia, 28 di antaranya ditemukan di Papua yang merupakan tempat tinggal cendrawasih paradigalla carunculata, cendrawasih ekor panjang astrapia nigra, cendrawasih paratia parotia sefilata, cendrawasih Wilson cicinnurus respublica, dan cendrawasih merah paradiasea rubra.


Ukuran burung cendrawasih berkisar antara 150 mm (burung cendrawasih raja dan cendrawasih Wilson) sampai 710 mm (Burung cendrawasih paruh sabit hitam). Burung ini masih memiliki kerabat dengan suku jalak dan gagak tetapi dibedakan dari kerabatnya ini, karena burung jantan memiliki bulu dada yang luar biasa dan sering kali berwarna cerah, bulu ekor yang panjang atau bulu pada sisi badan yeng menanjang. Bulu burung jantan yang menyala warnanya ini membantunya untuk memikat pasangan pada saat ia memperagakan dirinya. Burung betina biasanya tidak menyolok dan berwarna cokelat suram sehingga tidak menarik perhatian. Tingkah lau berkembang biak ada hubungannya dengan seberapa jauh penampilan kedua jenis kelamin. Jenis yang hitam misalnya Cendrawasih MacGregor dan burung manukodia, betina dan jantannya serupa dan disini jantan membantu memelihara anaknya. Pada jenis-jenis yang jantannya beraneka warnanya, jantan tersebut tidak ikut memegang peranan sebagai induk.






Sewaktu memperagakan diri, jantan memamerkan hiasannya yang aneh, baik bulu dikepala, bulu di sisi badan dan ekor, bulu penutup disisi dada atau di dada dengan cara menegakkan dan menegakkan bulu-bulu itu dan ikut serta menarikan tarian ritual atau berlagak dalam pose menyolok. Burung cendrawasih berekor kawat enam dari Arfak memperagakan diri di dekat atau pada lantai hutan; tempat percumbuan itu dipelihara dan dibersihkannya dari vegetasi. Jenis-jenis lain memperagakan diri diatas pohon, dan beberapa yang lain lagi, seperti burung cendrawasih biru, berkumpul dan melakukannya dalam bentuk kelompok, meskipun masing-masing jantan mempunyai tempat hinggap tersendiri. Jantan burung cendrawasih biru berlagak dan membentangkan bulu-bulu sisi tubuhnya yang berkilauan , dan berakrobat guna mempertontonkan bulunya yang indah. Jika seekor jantan sudah berhasil memikat betina, maka terjadilah perkawinan, dan jantan dapat kawin dengan betina lainnya. Setelah kawin, hanya betina yang mengurus anaknya dan membuat sarang yang letaknya jauh dari tempat pentas dan peragaan si jantan. Hanya beberapa jenis cendrawasih yang sarangnya diketahui. Biasanya merupakan kumpulan ranting-ranting berbentuk baskom yang diletakkan diatas dahan. Tetapi, cendrawasih raja bersarang di lubang pohon dan meletakkan satu-dua telur berwarna pucat yang bergaris-garis tak teratur.


 Bulu burung cendrawasih sering digunakan penduduk asli Irian sebagai hiasan rambut atau dekorasi bagian tubuh lainnya. Seorang laki-laki yang berhiaskan bulu burung cendrawasih dianggap lebih menarik gadis-gadis daripada saingannya yang bertubuh lebih tegap tetapi tidak memiliki hiasan. Di Papua Nugini menigkatnya keamanan dan kemakmuran mempunyai arti bahwa penduduk asli mempunyai lebih banyak waktu luang untuk berburu burung cendrawasih, sehingga pesta suku semakin meriah, baris demi baris bulu cendrawasih berayun. Tentu saja yang di cari bulu burung paling indah. Begitu pentingnya burung ini dalam kebudayaan tradisionalnya, hingga burung cendrawasih tergambar dalam bendera nasional Papua Nugini.

Walaupun selama berabad-abad penduduk Irian telah membantai burung-burung cendrawasih selama berabad-abad yang tak terhitung jumlahnya, baru menjelang akhir abad ke-19 burung ini mendekati kepunahan. Ribuan ekor telah dibunuh demi memenuhi idaman mode Eropa. Kira-kira 50.000 kulit per tahun tiba di pasaran Barat, semuanya dipakai sebagai penghias pakaian. Untunglah sekarang orang Eropa tidak lagi memakai bulu burung di pakaiannya dan perdagangan ini sesungguhnya telah mati. Burung cendrawasih merah sering kali di pelihara orang. Bulunya sering kali dipakai sebagai perlengkapan pakaian dan perhiasan topi pemain drum band di Jakarta dan banyak rumah orang Indonesia memiliki burung cendrawasih yang diawetkan sebagai penghias rumah.




Walaupun semua burung cendrawasih termasuk jenis yang dilindungi di Indonesia, burung yang indah ini masih terancam oleh pedagang yang menguntungkan tetapi tak bertanggung jawab.  Kemungkinan besar merupakan sumber inspirasi bagi mitos burung phoenix, burung yang membakar diri di api dan lahir kembali dari abunya. Legenda ini sedikitnya berumur 2000 tahun, lahir pada zaman Punisia atau bahkan lebih awal lagi dan agaknya menyebar di "dunia lama" bersama pedagang-pedagang yang menjual kulit burung cendrawasih. Diperkirakan bahwa brung Phoenix aslinya adalah burung cendrawasih Raggi jantan, yang bulu kepalanya berwarna emas berjambul merahyang indah melambai panjang ke belakang. Kalau sang jantan memperagakan diri kepada betinanya ia merendahkan kepala emasnya ke dan menegakkan bulu-bulu yang berwarna api sehingga tampak seperti kipas merah menyala, sehingga seolah-olah ditelan api.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar