MUTUALISME BANGSA SEMUT DAN POHON AKASIA
Pada film yang
saya lihat dengan judul “The private life
of plants”, saya dapat melihat berbagai mahkluk hidup saling bersimbiosis
dalam mempertahankan diri atau melangsungkan kehidupan mereka, salah satunya
yang dapat bersimbiosis dengan mahkluk hidup lain adalah bangsa semut dengan
pohon akasia. Disini telah terjadi simbiosis yang saling menguntungkan diantara
bangsa semut (pseudomyrmex) dan pohon akasia sejak lama. Semut-semut yang
sedang berada di salah satu batang dan ranting pohon akasia, semut-semut tersebut mendapatkan
makanan dari bagian pohon akasia yang berbentuk puting yang mengandung nektar
atau madu tanaman serta protein dan semut-semut menggunakan rongga-rongga di
ranting-ranting pohon akasia sebagai sarang mereka. Sebagai balas
budi atas kebaikan pohon akasia, semut-semut tersebut berusaha menghalau semua parasit-parasit
seperti kumbang, burung yang akan mengganggu kelangsungan hidup pohon akasia.
Semut dan pohon akasia memiliki hubungan timbal balik saling
menguntungkan alias simbiosis mutualisme. Uniknya, tinggi rendahnya kualitas
hubungan dipengaruhi besar tidaknya ketergantungan kedua makhluk hidup tersebut.
Selama ribuan tahun, pohon akasia telah menyediakan sumber makanan
seperti madu dan protein dan perlindungan bagi koloni semut agresif penggigit.
Sebaliknya, semut-semut tersebut juga melindungi pohon akasia dari serangan
satwa-satwa yang menyukai daun-daun akasia, contohnya jerapah dan gajah.
Apa yang terjadi jika populasi mamalia yang memangsa daun-daunan akasia
berkurang? Jawaban yang dapat diambil dari para peneliti di Kenya adalah membagi
vegetasi akasia menjadi dua bagian, salah satu dibiarkan dan lainnya
dihindarkan dari pemangsanya.
Dalam beberapa tahun, pohon akasia yang tidak terancam pemangsa
justru pertumbuhannya terganggu dan menghasilkan nektar lebih sedikit. Karena
nektar yang dihasilkan sedikit, semut yang datang pun berkurang. Namun, fatal
akibatnya bagi akasia sebab semut yang biasanya hanya mengisap nektar
menjadi beringas hingga merusak dahan dan daun akasia. Kalaupun tidak, serangga
lain yang suka merusak batang pohon, misalnya kumbang kayu, dengan leluasa
datang.
Meskipun mutualisme di antara semut dan pohon telah berlangsung
lama, tiba-tiba hilang sebegitu cepat. Namun, karena tergantung pada pohon
akasia, semut-semut tersebut akan kelaparan jika nektar berkurang sehingga jumlah
populasinya menurun. Sebagian anggota akhirnya terpaksa kembali berbaikan
dengan semut dan dengan populasi terbatas memilih bersabar menuai nektar dari
bunga akasia. Selain itu, apa yang terjadi jika pohon yang tadinya
ditinggalkan kembali dipindahkan ke alam liar? Ujar Todd Palmer, asisten profesor
ilmu hewan di Universitas Florida, AS. Temuan risetnya itu dilaporkan dalam
jurnal Science. Selanjutnya akan mengukur seberapa cepat pohon akasia akan
membangun simbiosis yang saling menguntungkan kembali dengan semut dan apakah
pemulihan ini memungkinkan atau gagal.